Rabu, 17 Februari 2016

Kesalahan Yang Sering Diabaikan Para Guru



Guru Tak Pernah Salah
wah kata siapa ?... Guru juga manusia, punya rasa, punya hati, jangan samakan dengan pisau belati (hehe)

Nah lho ! kalo gitu apa salah sebagai guru ? kita simak apakah Guru pernah begini atau begitu
Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang mungkin secara tidak sengaja pernah Guru lakukan
( mungkiin lho yaaa... kalau enggak, bagus ituu ^,^) :


Kesalahan 1.
Berpikir Egosentris.
Pernah Guru bicara seperti ini ke siswa, atau sekedar curhat ke sesama guru, “Saya sudah bersungguh-sungguh mengajar kelas ini tetapi hasilnya sangat mengecewakan!” Atau keluhan yang ini, “Anak ini lho, sudah dijelaskan berkali-kali tetap saja tidak mengerti!” Dua contoh keluhan tersebut menunjukkan bahwa guru yang bersangkutan berpikir egosentris, hanya menurut dirinya sendiri. Ya, menurut guru itu, dia sudah mengajar dengan sungguh-sungguh atau sudah menjelaskan berkali-kali. Dia tidak berpikir tentang masalah yang dihadapi oleh siswa ketika mengikuti pembelajaran sehingga tidak berhasil. Jangan-jangan karena guru tidak bisa berkomunikasi secara runtut dengan bahasa yang mudah dipahami? Atau, mungkin gaya belajar siswa visual dan kinestetik tetapi tidak dipenuhi oleh guru, sehingga gaya mengajar guru tidak acceptable bagi siswa?... tuuu kan ada yang merasa hehe,,,

Kesalahan 2.
Tidak Peka Terhadap Perubahan Suasana Kelas.
Dalam proses pembelajaran, wajib hukumnya seorang guru mengendalikan kelas. Sepenuhnya! Hal ini penting agar proses pembelajaran berjalan lancar. Kita tahu bahwa kelas terdiri atas berbagai karakter. Oleh karena itu harus diupayakan agar karakter yang beragam itu dapat diorkestrasikan menuju terwujudnya simponi pembelajaran yang enak dinikmati. Diorkestrasikan menuju simponi pembelajaran yang enak dinikmati, artinya bahwa seluruh potensi kelas (siswa) harus diberdayakan untuk saling membantu sehingga terwujud keberhasilan bagi setiap individu. Dengan demikian rata-rata prestasi kelas menjadi tinggi.

Kesalahan 3.
Komunikasi Tidak Efektif
Contoh komunikasi tidak efektif (guru ingin mengingatkan agar siswa mengerjakan PR yang diberikan), “Anak-anak, awas jangan lupa dengan PR kamu. Kamu kerjakan semuanya. Kalau kamu tidak mengerjakan PR kamu, maka besok tidak akan mendapatkan nilai dari bu guru.” Kenapa tidak dikatakan saja seperti ini, “Anak-anak, ingat, kerjakan PR-mu. Semuanya! Besok Ibu nilai.” Bukankah bahasa yang kedua lebih irit, dan karenanya lebih efektif. Jadi, ketika kita bermaksud meminta sesuatu, katakan saja secara tepat apa yang kita maksudkan. Kalau anak disuruh diam, ya katakan, “Anak-anak, diam!” Kalau anak-anak disuruh memperhatikan penjelasan guru, ya katakan saja, “Anak-anak, lihat ini!” dan semacamnya. Menghindari bahasa yang berlebih-lebihan atau bahkan mengancam, mengintimidasi peserta didik hanya akan membuahkan sindrom ketakutan bagi peserta didik disatu sisi, disisi yang lain hanya akan menjustifikasi diri kita sebagai seorang guru yang diktator dan otoriter. Dan menimbulkan pertentangan.  Penggunaan bahasa yang efektif akan membuahkan sikap proaktif dari peserta didik untuk selalu fokus dan terbiasa untuk melakukan perkataan, perbuatan yang efektif dan efisien.

Kesalahan 4
Mengajar Tanpa Persiapan
Nah, ini nih yang sering kali disepelekan, ketika ditanya “RPP nya mana Pak Guru ?”. dengan santainya guru tadi menunjuk di kepalanya, “Wong, sudah 15 tahun mengajar, sudah hafal luar kepala, tak perlu RPP lagi”. Wah,wah, saking hafalnya semuanya sudah di luar kepala, jadi yang di dalam kepala apa yaa, hehe..Persiapan mengajar itu ibarat skenario dalam film. Tidak akan ada film yang baik dan enak ditonton tanpa skenario yang baik. Begitu pula, tidak akan ada pembelajaran yang berhasil tanpa persiapan yang benar. Kebanyakan guru (kabarnya) enggan membuat persiapan secara benar. Akibatnya, pembelajaran di kelas berlangsung seolah tanpa arah. Ibarat kalo nyetir kendaraan, nyasar dulu baru nyampe..,weleh,weleh kacau itu..

Kesalahan 5
Tidak Melakukan Evaluasi Menyeluruh
Evaluasi pembelajaran harus dilakukan secara menyeluruh. Arti menyeluruh di sini adalah bahwa penyusunan soal evaluasi pembelajaran minimal harus mencakup bentuk-bentuk seperti: pilihan ganda, isian, jawaban singkat. Tidak hanya pilihan ganda saja, atau isian saja. Materinya meliputi seluruh materi yang diajarkan (minimal satu kompetensi dasar), dan yang tak kalah penting harus meliputi seluruh aspek baik kognitif, afektif maupun psikomotorik siswa.

Kesalahan 6
Salah Niat.
Nah kalo yang satu ini, semoga tidak ada diantara kita yang melakukannya, karena inilah tonggak keberhasilan kita dalam mendidik siswa. Ingat, segala sesuatu barawal dari niatnya. Menjadi guru harus dimulai dengan niat yang benar, yaitu niat untuk mengabdikan ilmunya, untuk mendidik putra/putri bangsa menjadi insan yang berguna bagi agama,bangsa dan negara.
Dengan niat yang benar sesuatu pekerjaan akan bernilai ibadah, begitupun sebaliknya niat yang salah akan merugikan diri kita kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar