Rabu, 17 Februari 2016

Mengasah Jiwa Kepemimpinan

 Kepemimpinan adalah bahasan klasik yang terus abadi.

 Tidak pernah henti dikaji dan disaji. karena keberadaannya  menjadi salah satu penguat bagi
keberhasilan sebuah organisasi dalam semua skala kecil hingga besar itulah sebabnya penting untuk mengasah kualitas diri sebagai pemimpin.

  Untuk menguasai beragam gaya kepemimpinan tak segan para (calon) pemimpin mengeluarkan gemerincing rupiah. puluhan bahkanratusan seminar kepemimpinan dihadiri. Tujuannya adalah agar menjadi pemimpin yang fleksible dalam berbagai situasi. Kuat dan memiliki karisma kepemimpinan yang terjaga. tentu saja hal itu baik. karena pengetahuan manajemen kepemimpinan akan menjadi alat dan metode sistematis dalam membangun, paling tidak sebagai kerangka fikir seorang pemimpin.

 Kita akan menemukan esensi dasar kepemimpinan pada dua kualitas pertama kemampuan untuk mempengaruhi  dan mengendalikan orang dalam hal ini penguasaan terhadap orang-orang menjadi menjaadi kunci penting dalam keberhasilan seorang pemimpin.

 Namun ada hal yang lebih mendasar dibanding penguasaan manajemen yaitu adalah mengasah jiwa kepemimpinan dimulai dari kemampuan mempengaruhi dan mengendalikan diri sendiri. karena dasarnya kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. bagaimana mungkin kita bisa mengendalikan orang lain bila kita sendiri  tidak mampu menguasai diri sendiri?
 kepemimpinan sejadi adalah milik setiap orang.  mereka yang dijiwanya dipenuhi dinamika. berupaya dan mampu mengatasi diri. Kemampuan  untuk melampaui diri didapatkan dengan penuh kesadaran akan pemahaman diri (self-awareness). Berani untuk mengarahkan diri (self-directing) dan pengelolaan diri (self-managing) secara santun dan bersahaja. hingga pada titik puncak pencapaian prestasi diri (self-accomplishment) sebagai pemimpin utama.
Memang untuk sampai kesana bukanlah hal yang mudah namun sesungguhnya membangun jiwa kepemimpinan adalah sesuatu yang menyenangkan meski kadang kali menjadi rumit
 kualitas pemimpin sejati mempengaruhi orang bukan karena kekuasaan yang dimiliki. Tapi, karena kepekaannya mendengar suara hati yang senantiasa berujar dari sinilah muncul personal leadership sebagai pondasi kokoh dalam mempengaruhi orang lain.
 Tanpa kemauan keras untuk mendengar maka kita tidak akan menjadi pelayan yang baik dan tidak akan sampai pada puncak kepemimpinan. Mendengar sesuatu yang tidak terdengar merupakan salah satu cara terbaik untuk menjadi pemimpin yang bijak. caranya adalah dengan sungguh-sungguh menyimak kegembiraan maupun penderitaan oleh orang yang kita pimpin. mudah untuk mendengarkan suara-suara tersembunyi disekeliling. asal kita mau dan mampu mendengar suara hati kita yang terus bergemuruh.

  Kini pertanyaannya, sudahkah telinga kita peka?


                                                                                                         #dikutip dari artikel majalah hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar